James Derulo's

Portfolio

Aku ini bukanlah pria baik yang pantas untuk memilikimu. Aku hanya sampah berengsek yang cuma bisa membuatmu meneteskan air mata.

Berbuat onar dimana-mana, membuat masalah satu demi satu. Melibatkanmu dalam dunia yang lebih gelap, dan membuatmu menderita.

Kau adalah gadis tercantik yang pernah aku temui. Wanita paling baik yang pernah aku kenal. Kau hadir dalma hidupku, mencuri semua mimpi bodoh yang membawaku tersesat.

Kau datang bukan dengan mata meremehkan, mencaci dan menghina seperti kebanyakan orang. Kau hadir dengan senyuman ketulusan. Kau beri aku kesempatan untuk berubah. Untuk merubah bukan sekedar hanya hidupku, namun juga hatiku, dan tujuanku.

Kau mengulurkan tangan mungil lembutmu dan meraih lenganku yang diselimuti darah dan luka. Kau tersenyum dan bertanya, apakah aku baik-baik saja.

Hari itu, ketika kita bertemu, tak pernah terlintas sedikitpun di benak-ku, bahwa kau akan rela mengikutiku sepanjang jalan hidupmu. Tak pernah terlintas di pikiranku, bahwa kau akan menerimaku, bukan hanya sebagai pria malang di tepi jalan, namun sebagai seorang pria sejati, sebagai seorang lelaki.

Hari itu aku bersumpah, tak perduli apa jadinya aku nanti. Sekedar pelindung, teman atau bahkan sekadar kacung-mu. Akan kupertaruhkan seluruh hidupku demi dirimu, demi kebahagiaanmu.

Karena kau lah satu-satunya orang di dunia ini, yang dengan tulus berani mengulurkan tangan kepada bajingan hina macam diriku.

Ketika hari itu kau memintaku untuk membawamu, meninggalkan semua masa lalumu, keindahan dan kemewahan yang menaungimu, saat itu aku bersumpah, apapun yang terjadi, kau adalah segalanya bagiku.

Kau menjadi wanita pertama, dan satu-satunya, yang memberikanku pengalaman baru dalam hidupku yang pahit. Tak hanya menjadi seorang pria, namun kau hadir di hidupku, sebagai kekasihku, pendampingku.

Setiap sore aku pulang, kau sambut dengan senyuman hangat. Tak pernah kau bertanya berapa yang kudapat, tak pernah kau bertanya apa yang aku lakukan. Kau selalu berkata, bahwa apapun yang kita dapat hari ini, adalah berkah, dan harus kita syukuri.

Kau berkata, bahwa apapun yang aku lakukan hari ini, kau percaya bahwa semua itu hanya untukmu.

Kau beri aku kepercayaan diri sebagai pria, sebagai manusia, sebagai masyarakat. Kau beri aku harapan, bahwa aku bisa hidup dengan normal, selayaknya mereka yang tak mengerti diriku. Kau beri aku keyakinan, bahwa aku, masih manusia.

Ketika malam itu kau dirundung derita, aku menangis dan meminta maaf sebesar-besarnya, karena kelemahan dan kebodohanku, kau harus menerima penderitaan di dunia ini.

Karena ketidak mampuanku, kau harus menahan rasa sakit luar biasa setiap hari, setiap malam.

Namun dengan sneyumu, kau mengucapkan terima kasih. Karena aku telah memberikan kehidupan bahagia yang kau dambakan.

Entah aku bisa mempercayai senyumanmu atau tidak. Aku tak pernah merasakan hal itu. Tak pernah aku bisa memberikan emas berlian, permata dan kemewahan.

Hanya makanan secukupnya, dan bahkan kau harus sampai menahan lapar di hari-hari sulit itu. Hanya pekerjaan mencuci, memasak dan mengurus rumah yang bisa aku berikan.

Mana mungkin aku percaya kata-kata manismu itu. Bahwa hidup yang kau jalani bersamaku ini bagaia?

Tak pernah sekali ku dengar keluhan darimu. Tolong, aku ingin tahu.

Tak pernah sekali ku dengan ocehanmu. Ku Mohon, aku ingin kau tegur aku ketika aku kecewakanmu.

Tak pernah sekali kau ungkapkan kekuranganku. Kumohon, katakanlah.

Bahkan hingga kini, ketika kau sudah pergi jauh ke tempat yang lebih baik. Kau bawa bersamamu semua rahasia itu.

Tapi, aku minta maaf, karena aku tak bisa menyusulmu untuk saat ini. Masih ada tugas yang harus aku selesaikan.

Menjaga tiga bocah mungil dan menggemaskan yang kau tinggalkan. Dan aku bersumpah kali ini. Akan kubuat mereka tumbuh bahagian, tanpa kekurangan cinta, karena aku akan beri tahu mereka, bahwa cinta dari ibu mereka, lebih luas dari lautan sekalipun.

Terima kasih, istriku tercinta

Inspired by Peerless Dad, ~ (oleh Hyeon-Sook Lee dan Cyung-chan Noh)
Jadilah aku sehelai angin
Memmbelai lembut dengan sayup
Bukan angin bertiup kencang
Yang jadikan rumah layang, pohon terbang

Jadilah aku setetes air
Yang menggenang di padang pasir
Bukan air yang mengalir
Yang menggenangkan banjir

Jadilah aku sepercik api
Menyala di antartika
Bukan api yang penuh amarah
Yang ternakan si jago merah

Jadilah aku manusia biasa
Yang berguna harumkan bangsa
Bukan manusia berjabat tinggi
Berkedok dermawan berhati macan


Ok, kawan!
Ini puisi saya yang berjudul "Jadilah Aku".
Semoga dapat membangkitkan semangat Anda untuk jadi orang yang berguna.
Tak harus jadi orang hebat untuk bisa bermanfaat, bukan?

karya: yayan taryana di kertasbiru19
Jadilah aku sehelai angin
Memmbelai lembut dengan sayup
Bukan angin bertiup kencang
Yang jadikan rumah layang, pohon terbang

Jadilah aku setetes air
Yang menggenang di padang pasir
Bukan air yang mengalir
Yang menggenangkan banjir

Jadilah aku sepercik api
Menyala di antartika
Bukan api yang penuh amarah
Yang ternakan si jago merah

Jadilah aku manusia biasa
Yang berguna harumkan bangsa
Bukan manusia berjabat tinggi
Berkedok dermawan berhati macan


Ok, kawan!
Ini puisi saya yang berjudul "Jadilah Aku".
Semoga dapat membangkitkan semangat Anda untuk jadi orang yang berguna.
Tak harus jadi orang hebat untuk bisa bermanfaat, bukan?
Anda bisa membedakan yang mana yang menyentuh hati anda ketika seseorang memandang anda, tetapi terkadang anda tidak bisa membedakan apakah itu cinta atu keraguan. Sebetulnya bukan bagaimana anda bisa mengetahuinya, tapi bagaimana anda bisa mengendalikannya jika itu terbukti cinta.



Oleh
Yayan Aryanto
at : kertasbiru19